![]() |
Efek Rumah Kaca saat tampil di SMAN 5 Solo, Jum'at (11/5/2012). Foto: JIBI/Solopos.com |
Masih berbekas dalam ingatan betapa larutnya Roni dalam kesenangan
ketika mendengar lagu-lagu The Beatles serta beberapa lagu 'tua' saat ia duduk
di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) lima tahun silam. Padahal, musik-musik
anak muda katakanlah seperti musisi Bruno Mars yang ngetop lewat topeng kera di video klip
Lazy Song atau LMFAO yang hitsnya sampai dibuat jadi jingle iklan salah satu produk makanan ringan
musiknya begitu digandrungi anak muda.
Bagi banyak orang, ikut mendengarkan lagu-lagu hits akan terdengar keren
dan hebat. Tapi bagi Roni, mendengarkan lagu yang anti-mainstream jauh lebih elegan dan
berkualitas. Dengar saja musisi seperti ABBA, Mr. Big, sampai yang paling ‘segar’
tapi nggak segar-segar amat, Jamie Cullum.
Harmonisasi nada serta substansi liriknya menurut Roni lebih dalam dan bermakna
ketimbang musik-musik anti-mainstream yang cenderung hanya
menjual musiknya tanpa memerhatikan kedalaman kata tiap kata yang dibait dalam
liriknya.
Menginjak Sekolah Menengah Atas (SMA), perlahan anggapan elegan dan
berkualitas Roni terhadap musik-musik anti-mainstream mulai memudar seiring
intensitasnya mendengarkan musik hits yang meninggi. Singkat cerita, dunia
kuliah kembali memutar perspektif Roni terhadap musik anti-mainstream.
Alasannya adalah musik indie. Semenjak hidup di kampus, semenjak itu pula Roni
mengenali musik indie dari musisi seperti Sore, Danilla, Navicula, Bangku
Taman, Stars & Rabbit dan mengenali lebih intim sistematika musik Efek
Rumah Kaca.
Ketika Roni sempat berpindah haluan ke musik mainstream sekalipun, ia masih menganggap
bahwa musik-musik anti-mainstream masih
mendapat tempat bila dipandang dari sisi kekayaan nada dan liriknya. Walaupun
musik mainstream harus diakui juga memiliki
kekayaan di sisi ‘pasar’ musiknya yang membuat pendengar loyalnya menjadi
ketagihan. Namun hal yang kemudian membuat Roni kembali berpangku ke musik
anti-mainstream adalah
stereotip yang diciptakan masing-masing orang terhadap jenis-jenis musik.
Terkhusus bagi musik indie, mungkin saya pribadi juga bisa dikatakan
telah melakukan stereotip saat saya mengatakan bahwa musik ini memiliki
sistematika nada dan substansi lirik yang mendalam. Tapi, satu hal yang bisa
saya pastikan adalah bahwa musik indie lebih banyak bicara soal kreativitas.
Musik indie lebih memiliki kebebasan karena tidak harus capek menciptakan musik
yang laku untuk dijual di pasaran. Dengan minimnya intervensi dari pihak lain
atas kebebasan tersebut, membuat kreativitas musisi indie tercurah dengan
klimaks. Alhasil lirik dari lagu yang diciptakan pun bisa bermakna dan memiliki
pesan yang dalam.
“Lebih punya kebebasan. Soal lirik, chord, durasi musik secara menit, tidak
ditentukan,” kata pendiri label indie Demajors, David Karto dikutip dari situs CNN Indonesia. Hal itu pulalah yang membuat saya
harus berbicara musik indie tergolong ke dalam musik anti-mainstream karena pasarnya yang cenderung segmented; belum bisa
dinikmati semua kalangan.
Mungkin, saat era dimana musik dangdut masih sering dilantunkan
grup lawak legendaris Warkop DKI di film-filmnya, para mahasiswa sibuk dengan
pesan kritikan khas yang disampaikan terhadap pemerintah. Kentalnya aroma
pergerakan mahasiswa begitu terasa pada saat itu. Tidak seperti mahasiswa
sekarang yang sering ngedumel via media sosial saja sudah
dicap sebagai mahasiswa kritis dan skeptis.
Beda zaman, beda konteks. Mahasiswa zaman kini terlihat lebih
mengeksistensi kreatifitas di bidangnya masing-masing. Bila kita boleh
mengaitkan antara musik dan kreatifitas pada lingkungan kampus saat ini, tak
afdal bila tidak menyebutkan radio kampus dari daftar. Untung saja, khalayak
kampus sebagian besar masih menggandrungi musik indie.
Sehingga
radio-radio kampus yang ada masih berpakem pada segmentasi musik sidestream.
Sebut saja radio kampus populer yang sudah ada sejak 1963, 8EH Radio ITB. Radio tersebut
menjadi cerminan kebanyakan radio kampus lain yang masih mengutamakan musik
indie sebagai pakem mereka. “Karena
musik yang sudah populer dan biasa kita dengar sudah banyak diputar di radio
lain. Kami mengutamakan edutainment dimana musik juga tak luput dari
pengetahuan” ungkap eks GM 8EH
Radio ITB 2016-2017, Silmi
Sabila saat ditemui di Sekretariat 8EH
Radio, ITB pada Jum’at (31/3/2017).
Kebebasan menjadi kunci utama musik indie. Sandy Sandhoro, Dewa Bujana,
Indra Lesmana jadi contoh musisi yang pindah untuk berekspresi di bawah naungan
label indie. Musisi indie, yang musiknya anti-mainstream kini sedang berusaha untuk terdengar mainstream. White Shoes and
the Couples Company saja sudah melampaui lima benua untuk konser. Endah N
Rhesa, sudah acap kali bertandang dan bersenandung di luar negeri. Burgerkill,
Mocca, Goodnight Electric, dan Discus menjadi salah satu contoh band indie yang
sudah mendapat pengakuan di internasional. Bahkan, label indie, Demajors yang sudah bertahan 14
tahun lebih sudah berurusan dengan sekitar 400 album dari ratusan musisi.
Meskipun harus diakui pasar musik indie memang tak sebesar musik mainstream, tapi kini musisi-musisinya
sudah mulai menunjukkan taring di belantika musik Indonesia. Setiap kalender
berganti tahun terus bermunculan grup-grup ataupun musisi solo yang memulai
karirnya di dunia musik indie. Tinggal menunggu keberanian media-media massa
mayor di Indonesia untuk bisa menentukan nasib musik indie ke depan, yakni me-mainstream-kan
sesuatu yang sudah anti-mainstream. Tapi sih, rasanya lebih cocok
kalau yang anti-mainstream terdengar
seperti mainstream.
Tulisan oleh: Wicaksono Tri Kurniawan
Tulisan oleh: Wicaksono Tri Kurniawan
Mahasiswa S1 Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran
Terima kasih telah membaca. Kalau kamu suka, jangan lupa share ya!
0 komentar: