April 14, 2017

GM 8EH Radio ITB 2016-2017, Silmi Sabila: Radio Kampus Harus Peka Isu

Foto: Christ Wibowo
Silmi Sabila (kiri) semringah saat diwawancarai Wicaksono Tri (kanan) di 
Sekretariat 8EH Radio, ITB, Jum'at (31/3/2017).

Dahulu, kehidupan kampus bisa jadi sangat berbeda bila dibandingkan dengan kehidupan kampus zaman sekarang. Mahasiswa era Orde Lama dan Orde Baru terkenal dengan gayanya sebagai pemberontak; orang-orang terdepan yang mengkritisi kebijakan pemerintah dan tak sungkan dengan segala risikonya. Pada saat itu, belum ada media berteknologi mutakhir seperti televisi. Radio menjadi salah satu media terdepan dan dianggap paling efektif untuk wadah mahasiswa berekspresi.
Tak terkecuali 8EH, sebuah radio kampus Institut Teknologi Bandung yang didirikan tahun 1963 memiliki banyak sejarah bagi pergerakan mahasiswa saat itu. Sampai-sampai, 8EH harus vakum karena mendapat banyak kecaman lantaran menjadi satu-satunya radio yang membacakan buku putih Soeharto. Dua dekade berselang, 8EH kembali mengudara di awal abad 21. Jarak vakum yang begitu panjang membuat adanya perbedaan dari radio ini di zaman sekarang.
Mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Wicaksono Tri Kurniawan dengan ditemani fotografer Christ Wibowo Utomo berkesempatan mewawancarai mantan General Manager (GM) 8EH Radio ITB periode 2016-2017 Silmi Sabila di sekretariat 8EH Radio ITB, Jl. Ganesha, Bandung pada Jumat (31/3/2017). Selain menceritakan 8EH secara mendalam, ia juga turut mengungkapkan pandangannya terhadap radio kampus. “Sudah seharusnya radio kampus itu gak apatis terhadap isu-isu pemberitaan yang ada,” ungkap Silmi.

Perbedaan 8EH dengan radio kampus lainnya?
Tidak terlalu ada perbedaan yang signifikan, pada dasarnya kami sama dengan radio komunitas di berbagai kampus lainnya di Bandung. Hanya saja, satu-satunya yang bisa dikatakan menjadi pembeda adalah soal sejarahnya. Kami (8EH) sudah ada sejak tahun 1960an. Kemudian, karena di sini basicnya adalah teknik, saat awal berdirinya pun para mahasiswa ITB jurusan Elektro membuat sendiri pemancar radio ini sebagai tugas akhir. 

Karakteristik pendengar anak ITB apakah berbeda dari tiap tahunnya atau selalu sama?
Karena memang pada dasarnya mahasiswa itu anak muda yang selera semua orangnya bisa dipukul rata. Entah mereka datang dan berasal dari kampus manapun. Jadinya tidak terlalu ada perbedaan setiap tahunnya, karena anak muda sudah memiliki ciri khas tersendiri secara umum.

Lalu, bagaimana karakteristik pendengar anak ITB?
Sebenarnya, saya tidak bisa menggeneralisasi satu karakteristik anak ITB sebagai pendengar kami. Hal tersebut dikarenakan setiap program yang ada di 8EH pasti memiliki karakteristik rinci pendengarnya yang berbeda-beda. Secara umum, anak ITB cenderung tertarik dengan hal-hal yang berbau kampus. Secara tidak langsung ini memudahkan 8EH berjalan sebagai corongnya media kampus. Tapi, bukan berarti tema konten lainnya tidak disukai oleh pendengar. Go Community misalnya, program yang mengundang berbagai komunitas di Bandung dan Jamgasm, program musik komunitas ini juga tetap jadi program-program yang ditunggu pendengar (tak hanya dari anak ITB).


Saya menangkap poin dimana 8EH fokus pada bidang edukasi dan hiburan. Bila dibandingkan, lebih unggul mana?
Sebetulnya saya rasa kedua bidang itu (edukasi dan hiburan) sudah seimbang. Hal tersebut dibuktikan dengan program-program yang kami punya. Selain tadi disebutkan ada Jamgasm yang membahas musik atau Go Community tentang komunitas, kami juga mempunyai beberapa program yang berfokus di bidang edukasi. Contohnya seperti Techno Chill yang membahas perkembangan teknologi, Farmasi on Air dimana kami bekerja sama dengan anak Farmasi ITB untuk menyiarkan konten tentang dunia farmasi.

Tantangan atau halangan 8EH sebagai radio kampus?
Saya melihat zaman ini teknologi sangat pesat berkembang. Mulai dari alatnya sampai ke ranah medianya (platform) sendiri. Dengan cepat sekarang kita bisa menemukan banyak media baru seperti YouTube, Soundcloud, Spotify, audio podcast, dan lainnya. Hal inilah yang jelas menjadi tantangan bagi kami selaku penggiat dunia radio. Kami harus memutar otak bagaimana caranya agar banyak mahasiswa kembali mau mendengarkan radio.

Adakah tantangan atau halangan dari segi teknisnya?
8EH adalah radio kampus ITB yang memiliki jaringan frekuensi di 107.9 FM dan online streaming. Namun, untuk saat ini kami hanya bersiaran di online streaming. Tentu, hanya mengudara di streaming membuat kami harus mengeluarkan lebih banyak effort untuk menarik banyak pendengar.

Lantas, mengapa usaha yang dikeluarkan harus lebih banyak untuk siaran daring?
Tidak bisa dipungkiri kalau anak muda (mahasiswa) lebih menyukai hal yang praktis. Ketika kami dari awalnya ada di dua jaringan (frekuensi dan onlinestreaming) dan kini hanya streaming, ini menjadi sebuah halangan. Streaming cenderung tidak praktis, tidak seperti frekuensi dimana kita tinggal menyalakan radio. Untuk bisa streaming, butuh gadget/laptop, kemudian koneksi, dan masuk ke website atau aplikasi. Tentu mahasiswa yang rela streaming jumlahnya tidak sebanyak yang mendengarkan lewat frekuensi.


Apa yang terjadi pada jaringan frekuensi 8EH?
8EH sedang tidak mengudara di jaringan frekuensi karena pemancar kami sudah lama rusak dan belum diperbaiki hingga sekarang.

Tidak ada reaksi 8EH kepada kampusterhadap lamanya pemancar yang rusak?
Kami sudah sempat meminta dana kepada pihak kampus, dan beberapa waktu yang lalu sebenarnya pemancar sudah sempat diperbaiki. Tinggal beberapa komponen saja yang belum diperbaiki.

Apakah 8EH sendiri sudah difasilitasi dengan baik oleh kampus?
Lumayan, karena sistem di ITB apabila hendak mengajukan dana ke Lembaga Kemahasiswaan dan mengikuti prosedurnya dengan baik, selebihnya bakal baik pula. Kendalanya adalah susah untuk memperbaiki fasilitas.

Bergantungkah 8EH terhadap Lembaga Kemahasiswaan?
8EH tidak terlalu berharap dana kepada Lembaga Kemahasiswaan, karena kadang dana yang diberikan pun tidak sesuai harapan, bahkan tidak dikasih sekalipun.

Itu artinya 8EH sudah bisa mencukupi dananya sendiri?
Untuk urusan operasional sendiri 8EH tidak butuh banyak, paling hanya soal maintenance saja yang menjadi pengecualian. Dalam hal mencari dana sendiri, kami biasanya melakukan dana usaha (danus) dan didapatkan dari uang kas.

Pernah ada masalah terkait pendanaan di 8EH?
Pernah, terjadi di periode sebelum saya (2015-2016). Di akhir periode tersebut terjadi kesalahpahaman dimana 8EH tidak terdaftar sebagai unit kegaiatan mahasiswa di periode berikutnya. Alhasil di periode berikutnya itu yang jadi periode saya menjabat, otomatis tidak ada sepeser pun dana yang diberikan.



Apa yang mendasari Anda setahun lalu mencalonkan sebagai GM?
Saya sendiri sudah berada di 8EH sejak semester satu dan sekarang sudah menginjak semester delapan. Hal yang mendasari saya ingin menjadi GM karena ingin mencari pengalaman dan tantangan yang baru. Saya merasa bahwa 8EH adalah radio yang tepat untuk mengembangkan kemampuan saya karena di sini banyak sekali potensinya.

Apakah latar belakang keluarga memengaruhi Anda bisa menjadi GM?
Tidak sama sekali haha. Tidak hanya soal GM, hal yang membuat saya masuk di radio ini karena kecintaan saya terhadap musik. Hal yang membuat saya tergiur masuk ke 8EH karena pada saat itu melihat poster promosinya yang menampilkan informasi bahwa Iwan Fals pada awal karirnya di medio ’80-an pernah siaran dan rekaman di 8EH. Pada saat itu pula saya langsung mengulik musik Indonesia dan jatuh cinta terhadap dunia musik hingga kini.

Bagaimana sistem pemilihan GM di 8EH?
General Manager di 8EH dipilih setiap periode kepengerusan satu tahun. Kru (anggota) 8EH yang berhak adalah minimal mahaiswa semester tiga. Akan ada tim panitia pemilih yang dibentuk, dan calon-calonnya dipilih berdasarkan voting.

8EH sudah lama berdiri, apakah sudah menjadimagnet bagi calon mahasiswa ITB?
Kami tidak berani untuk bilang bahwa 8EH sudah menjadi magnet tersendiri bagi ITB haha. Lagipula, kami pun belum melakukan survei yang mendalam tentang itu. Bagi mahasiswa baru, mungkin iya. Tapi untuk secara umum, belum.

Dengan sudah lamanya berdiri dan nama yang dimiliki, apakah 8EH sudah selevel dengan radio swasta di Bandung?
Walaupun 8EH sudah lama berdiri sejak tahun 1963, tapi di awal dekade 1980, 8EH sempat vakum sampai akhirnya kembali mengudara di awal abad 21. Tapi, dengan begitu bukannya 8EH tidak berkontribusi besar. Pada masa tersebut, bisa dibilang 8EH menjadi corongnya pergerakan mahasiswa dengan banyak mengkritik pemerintah, sampai yang paling terkenal adalah 8EH menjadi satu-satunya radio yang berani membacakan buku putih. Hal tersebut lah yang membuat 8EH dikenal banyak orang dan mempunyai nama. Ketika 8EH kembali mengudara pada awal 2000, konten yang dihadirkan tidak lagi sebagai pergerakan mahasiswa yang mengkritik pemerintah, karena zaman pun sudah berubah. Jadinya, bisa dibilang nama 8EH sekarang sudah tidak sebesar yang dulu.

Peran 8EH bagi ITB setelah masa vakum?
Untuk sekarang (pada masa 8EH setelah vakum), peran yang 8EH berikan paling hanya memberitakan isu-isu kampus saja.

Pandangan Anda terhadap radio-radio kampus lainnya di Bandung?
Semuanya keren-keren. Saya ambil dua contoh radio kampus lain saja yang lebih mencolok. Universitas Parahyangan dengan radionya URS (Unpar Radio Station) menurut saya lebih rapih dalam hal organisasinya, kemudian yang kedua adalah radio-radio yang ada di Universitas Padjadjaran (Unpad). Menurut saya, Unpad adalah universitas yang punya banyak banget radio kampusnya. Artinya, ada banyak pilihan bagi mahasiswa Unpad. Berbeda dengan di ITB. Karena di sini radionya cuma ada dua, jadi para mahasiswanya cenderung membanding-bandingkan antar 8EH dengan Radio Kampus ITB.

Terganggu dengan adanya radio kampus lain di ITB (Radio Kampus ITB)?
Tidak sih, karena ya kami dengan Radio Kampus ITB sama-sama menjalankan kegiatannya masing-masing saja.

Hubungan antara 8EH dengan Radio Kampus ITB?
Sebenarnya fine-fine saja. Kadang orang-orang (mahasiswa) nya sendiri saja yang terlalu membesar-besarkan. Malah menurut saya, dengan adanya dua radio di ITB (8EH dan Radio Kampus ITB) ibaratnyaada dua warung di kampus ini.

Lalu, apa sih perbedaan 8EH dengan Radio Kampus ITB?
Satu hal yang mencolok adalah segi sejarahnya. Kalau dari segi siarannya, 8EH ini lebih aktif dalam menyiarkan isu-isu kampus. Bahkan kami juga seringkali keluar dari kampus, seperti apa yang kami lakukan di program Go Community dan Jamgasm. Dari segi musik, kami fokus pada musik sidestream (indie) yang jarang terekspos ke media.
Kenapa harus musik tersebut yang jadi fokus utama 8EH?
Karena musik yang sudah populer dan biasa kita dengar sudah banyak diputar di radio lain. Selain itu, konsep 8EH yang mengangkat edutainment menjadi alasannya. Kami ingin memberi pengetahuan baru pula dari segi musik.

Adakah pengaruh dari vakumnya 8EH terhadap 8EH saat ini?
Angkatan ’60-‘80an di 8EH terkenal dengan ketegasan, loyalitas, dan profesional. Sayangnya, ketiga hal itu tidak berhasil diwariskan kepada angkatan setelah vakum (2000-sekarang) karena mungkin jarak antar sebelum dan sesudah vakum yang sangat lama sampai dua dekade.

Menurut Anda, masih relevan dan efektif kah radio kampus sebagai corong pergerakan mahasiswa seperti yang 8EH lakukan dulu?
Relevan, karena sebagai salah satu media kampus, sudah seharusnya radio kampus itu tidak apatis terhadap isu-isu pemberitaan. Efektif? Belum tentu, karena saat ini sudah banyak sekali media selain radio.

Kini kebanyakan radio kampus memfokuskan sebagai media hiburan. Menurut Anda, itu disebabkan mahasiswa sekarang apatis terhadap isu?
Bisa jadi, mahasiswa sekarang enggan lagi peduli untuk mengkritisi isu-isu. Apabila diperhatikan, tidak cuma dilihat dari radio kampus saja yang seperti itu. Dari pandangan saya, mahasiswa sekarang kuliah ya kuliah saja, hanya mementingkan kesukaan pribadinya.

Terakhir, menurut Anda bagaimana menciptakan radio kampus yang baik dan ideal?
Sebagai salah satu media kampus tentunya radio kampus harus aktif terhadap isu-isu yang terjadi di lingkungan kampus. Walaupun begitu, tetap harus update dengan isu-isu yang ada di luar kampus. Intinya, radio kampus harus peka terhadap semua isu yang ada.

***

SILMI SABILA | Tempat dan tanggal lahir: Bogor, 6 Desember 1994 | Pendidikan: SMAN 1 Depok (2010-2013), S-1 Desain Interior Institut Teknologi Bandung (2013-sekarang) | Karier: Chief Music Director 8EH Radio ITB (2015-2016), Anggota Departemen Informasi Ikatan Mahasiswa Desain Interior ITB (2015-2016), General Manager 8EH Radio ITB (2016-2017), Reporter Stereosnap ID (2016-sekarang)




Terima kasih telah membaca posting diatas. Bila ada link yang tidak bisa diklik, cukup scrolling mouse Anda keatas dan kebawah agar link bisa diklik

0 komentar:

Copyright 2011 Stoppagetimes - Template by Kautau Dot Com - Editor premium idwebstore