Mei 25, 2017

Media: Taman Bermain Anak Masa Kini


Foto: brilio.net
Ilustrasi seorang anak menonton televisi

     Perkembangan zaman telah membawa masyarakat ke pola hidup yang baru. Dalam dunia yang serba cepat ini, mengakibatkan penggunaan gawai dan televisi meningkat. Pengguna gawai dan televisi yang meliputi anak-anak, secara tidak sadar telah membuat anak-anak mengalihkan ‘taman bermain’ mereka kepada gawai dan televisi. Gawai dan televisi yang merupakan media, menjadikan tantangan apakah media dapat menjadi ‘taman bermain’ yang baik bagi anak atau tidak.

       Kini, statisik porsi program di televisi menunjukkan angka yang miris bagi dunia anak. Hanya total 0,07 % acara anak-anak yang disiarkan oleh televisi. Sisanya, 31% adalah sinetron dan 40% iklan yang justru lebih digemari dan sering ditonton oleh anak.
    Communication Specialist UNICEF Indonesia, Kinanti Pinta Karana menyatakan bahwa belum sepenuhnya media ramah kepada anak. Survei yang dilakukan UNICEF pada awal tahun 2016 dan melibatkan 1100 responden menghasilkan bahwa 90% responden menjawab acara televisi kini tidak mendidik.
        Dihimpun berdasarkan survei UNICEF Regional, Asia Tenggara khususnya Indonesia menonjol dalam penggunaan media digital, dimana jumlahnya lebih banyak dari jumlah penduduknya. Walaupun begitu, media digital tetap tidak bisa dijauhkan karena media digital merupakan aset masa depan. Solusi yang bisa diterapkan adalah dengan menggalakkan literasi media yang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Tentunya, dibutuhkan peran dan koneksi antar orangtua juga anak.
      Peneliti Remotivi, Wisnu Prasetiyo juga sependapat dengan Kinanti bahwa belum sepenuhnya media itu ramah anak. Survei yang dilakukan Remotivi pada 300 orangtua di Jakarta terkait anak menonton televisi, menyebutkan bahwa 59% acara televisi tidak mendidik. Sekitar 20% disebabkan acara televisi berisi konten kekerasan, namun 39% yang positifnya karena berisi konten informatif.
     Pemerintah harus ikut aktif dalam hal pengawasan agar dapat memperbaiki kondisi ini. Butuh upaya struktural untuk mensingkronkan regulasi penyiaran dengan regulasi anak. Tidak cukup hanya dengan regulasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) saja. Upaya struktural ini berfokus pada proses produksi dan sebuah produk media. Ketika berfokus pada proses produksi, maka undang-undang yang mengatur proses produksi dan hak-hak anak sebagai artis menjadi hal yang patut diperhatikan. Dengan begitu, maka suatu produk media tidak hanya ramah anak di permukaan, tetapi juga ramah anak dalam intinya.
        Psikolog Anak & Remaja, Jovita Maria Ferliana memandangnya dari sudut pandang dampak media terhadap psikolog anak. Berdasarkan survei, dalam sehari anak dapat aktif menggunakan ponsel selama 5 jam, dimana hal itu bisa berdampak pada perkembangan fisik, psikologis, dan kognitifnya. Anak yang terlalu sering menggunakan media tanpa diiringi dengan kegiatan fisik akan terganggu kondisi fisik dan psikisnya.
         Secara fisik, motorik halus dan kasar pada anak tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya. Secara psikis, emosi anak menjadi fluktuatif sehingga cepat marah. Efek lainnya anak bisa meniru apa saja yang mereka lihat dan tonton, terlepas positif atau negatifnya hal yang mereka tiru.
         Hal yang harus dilakukan orangtua adalah menjalankan fungsi rekreatif dan edukatif. Selain itu orangtua harus sadar bahwa anak harus mendapatkan haknya dengan baik ketika berada di rumah. Orangtua harus memunculkan minat anak sejak dini agar tidak bergantung pada media saja.
        Dosen & Aktivis Literasi Media, Santi Indra Astuti memaparkan beberapa survei dan penjelasan singkat seputar literasi media. Diantaranya adalah survei Kementrian Komunikasi dan Informatika, yang menyatakan bahwa tayangan televisi di Indonesia masih didominasi oleh tayangan yang tidak ramah anak dengan persentase tayangan anak-anak hanya 0,07%.
      Untuk dapat memperbaiki hal tersebut, diperlukan kemampuan dalam literasi media. Kemampuan literasi media tersebut mencakup ke dalam empat aspek, yakni kemampuan akses, kemampuan mencerna, kemampuan menganalisis, serta kemampuan menjadi media yang diperlukan.
        Kesulitan yang kini ada adalah sulitnya acara anak-anak dapat bersaing dengan acara lainnya. Hal ini diungkapkan langsung oleh Mutia Ginting, produser program Laptop Si Unyil Trans 7. Menurutnya sebagai orang yang bekerja langsung di media anak, dibutuhkan kreativitas, visi, komitmen dan kerja keras untuk bisa mewujudkan media ramah anak. Terutama komitmen yang kuat dari orang-orang yang bekerja di media untuk dapat memberikan produk yang mengandung unsur mendidik sangat diperlukan.
      Selain itu harus dipupuk rasa cinta terhadap Indonesia serta memiliki idealisme yang kuat agar bisa berkembang dalam mewujudkan media yang ramah anak.
      Sebagai Komisioner KPI Pusat, Hardly Stefano memberikan pandangannya terhadap media anak dilihat dari sisi regulasi yang sudah ada. Menurut Hardly, televisi sebagai medium pembentukan karakter bangsa harus memiliki peran pengawasan, pembinaan, sanksi, jejaring kerja, anugerah ramah anak, survei indeks kualitas isi siaran, dan literasi media
    Lebih lanjut lagi ia mengungkapkan optimismnya media bisa menjadi ramah anak. Perlu adanya kemauan mendengar dan keberanian dalam bertindak. Mahasiswa yang memiliki idealisme terbesar harus sering mengkaji dan mengkritisi terhadap perkembangan media anak. Dengan bersama-sama bahu membahu menyehatkan penyiaran pasti mampu untuk menciptakan media ramah anak.
        Dadang dari KPID Jawa Barat melengkapi pernyataan yang diungkapkan oleh Hardly Stefano. Dengan adanya regulasi kualifikasi jam penayangan program, para pelaku media harus bisa mengkalisifikasikan program yang mereka punya dengan baik agar media menjadi sehat dan mampu untuk ramah anak. Semua elemen juga harus berperan dan saling bekerja sama untuk mewujudkan hal tersebut.
        Terakhir, Penulis dan Pemimpin Redaksi Majalah Anak Indonesia BEST, Nilam Zubir menyatakan bahwa solusi yang dapat diberikan adalah dengan adanya majalah atau bacaan untuk anak tentang pengetahuan dan budi pekerti serta mengajak anak agar lebih dekat dengan alam sekitar.   

Media: Taman Bermain Anak Masa Kini
Oleh Wicaksono Tri Kurniawan
Mahasiswa Program Studi Jurnalistik
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran


 Dihimpun dari:
Seminar Parade Jurnalistik Unpad 2016.
Seluruh gagasan merupakan pendapat yang disampaikan narasumber

    tanpa mengubah/menambah intinya. 

Terima kasih telah membaca posting diatas. Bila ada link yang tidak bisa diklik, cukup scrolling mouse Anda keatas dan kebawah agar link bisa diklik

0 komentar:

Copyright 2011 Stoppagetimes - Template by Kautau Dot Com - Editor premium idwebstore