![]() |
Foto: brilio.net
Ilustrasi seorang anak menonton televisi
|
Perkembangan
zaman telah membawa masyarakat ke pola hidup yang baru. Dalam dunia yang serba
cepat ini, mengakibatkan penggunaan gawai dan televisi meningkat. Pengguna
gawai dan televisi yang meliputi anak-anak, secara tidak sadar telah membuat
anak-anak mengalihkan ‘taman bermain’ mereka kepada gawai dan televisi. Gawai
dan televisi yang merupakan media, menjadikan tantangan apakah media dapat
menjadi ‘taman bermain’ yang baik bagi anak atau tidak.
Kini,
statisik porsi program di televisi menunjukkan angka yang miris bagi dunia
anak. Hanya total 0,07 % acara anak-anak yang disiarkan oleh televisi. Sisanya,
31% adalah sinetron dan 40% iklan yang justru lebih digemari dan sering
ditonton oleh anak.
Communication Specialist UNICEF
Indonesia, Kinanti Pinta Karana menyatakan bahwa belum sepenuhnya media ramah
kepada anak. Survei yang dilakukan UNICEF pada awal tahun 2016 dan melibatkan
1100 responden menghasilkan bahwa 90% responden menjawab acara televisi kini
tidak mendidik.
Dihimpun
berdasarkan survei UNICEF Regional, Asia Tenggara khususnya Indonesia menonjol
dalam penggunaan media digital, dimana jumlahnya lebih banyak dari jumlah
penduduknya. Walaupun begitu, media digital tetap tidak bisa dijauhkan karena
media digital merupakan aset masa depan. Solusi yang bisa diterapkan adalah
dengan menggalakkan literasi media yang dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Tentunya, dibutuhkan peran dan koneksi antar orangtua juga anak.
Peneliti
Remotivi, Wisnu Prasetiyo juga sependapat dengan Kinanti bahwa belum sepenuhnya
media itu ramah anak. Survei yang dilakukan Remotivi pada 300 orangtua di
Jakarta terkait anak menonton televisi, menyebutkan bahwa 59% acara televisi
tidak mendidik. Sekitar 20% disebabkan acara televisi berisi konten kekerasan,
namun 39% yang positifnya karena berisi konten informatif.
Pemerintah
harus ikut aktif dalam hal pengawasan agar dapat memperbaiki kondisi ini. Butuh
upaya struktural untuk mensingkronkan regulasi penyiaran dengan regulasi anak.
Tidak cukup hanya dengan regulasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) saja.
Upaya struktural ini berfokus pada proses produksi dan sebuah produk media.
Ketika berfokus pada proses produksi, maka undang-undang yang mengatur proses
produksi dan hak-hak anak sebagai artis menjadi hal yang patut diperhatikan.
Dengan begitu, maka suatu produk media tidak hanya ramah anak di permukaan,
tetapi juga ramah anak dalam intinya.
Psikolog
Anak & Remaja, Jovita Maria Ferliana memandangnya dari sudut pandang dampak
media terhadap psikolog anak. Berdasarkan survei, dalam sehari anak dapat aktif
menggunakan ponsel selama 5 jam, dimana hal itu bisa berdampak pada perkembangan
fisik, psikologis, dan kognitifnya. Anak yang terlalu sering menggunakan media
tanpa diiringi dengan kegiatan fisik akan terganggu kondisi fisik dan
psikisnya.
Secara
fisik, motorik halus dan kasar pada anak tidak bisa berkembang sebagaimana
mestinya. Secara psikis, emosi anak menjadi fluktuatif sehingga cepat marah.
Efek lainnya anak bisa meniru apa saja yang mereka lihat dan tonton, terlepas
positif atau negatifnya hal yang mereka tiru.
Hal
yang harus dilakukan orangtua adalah menjalankan fungsi rekreatif dan edukatif.
Selain itu orangtua harus sadar bahwa anak harus mendapatkan haknya dengan baik
ketika berada di rumah. Orangtua harus memunculkan minat anak sejak dini agar
tidak bergantung pada media saja.
Dosen
& Aktivis Literasi Media, Santi Indra Astuti memaparkan beberapa survei dan
penjelasan singkat seputar literasi media. Diantaranya adalah survei Kementrian
Komunikasi dan Informatika, yang menyatakan bahwa tayangan televisi di
Indonesia masih didominasi oleh tayangan yang tidak ramah anak dengan
persentase tayangan anak-anak hanya 0,07%.
Untuk
dapat memperbaiki hal tersebut, diperlukan kemampuan dalam literasi media.
Kemampuan literasi media tersebut mencakup ke dalam empat aspek, yakni
kemampuan akses, kemampuan mencerna, kemampuan menganalisis, serta kemampuan
menjadi media yang diperlukan.
Kesulitan
yang kini ada adalah sulitnya acara anak-anak dapat bersaing dengan acara
lainnya. Hal ini diungkapkan langsung oleh Mutia Ginting, produser program
Laptop Si Unyil Trans 7. Menurutnya sebagai orang yang bekerja langsung di
media anak, dibutuhkan kreativitas, visi, komitmen dan kerja keras untuk bisa
mewujudkan media ramah anak. Terutama komitmen yang kuat dari orang-orang yang
bekerja di media untuk dapat memberikan produk yang mengandung unsur mendidik
sangat diperlukan.
Selain
itu harus dipupuk rasa cinta terhadap Indonesia serta memiliki idealisme yang
kuat agar bisa berkembang dalam mewujudkan media yang ramah anak.
Sebagai
Komisioner KPI Pusat, Hardly Stefano memberikan pandangannya terhadap media
anak dilihat dari sisi regulasi yang sudah ada. Menurut Hardly, televisi
sebagai medium pembentukan karakter bangsa harus memiliki peran pengawasan,
pembinaan, sanksi, jejaring kerja, anugerah ramah anak, survei indeks kualitas
isi siaran, dan literasi media
Lebih
lanjut lagi ia mengungkapkan optimismnya media bisa menjadi ramah anak. Perlu
adanya kemauan mendengar dan keberanian dalam bertindak. Mahasiswa yang
memiliki idealisme terbesar harus sering mengkaji dan mengkritisi terhadap
perkembangan media anak. Dengan bersama-sama bahu membahu menyehatkan penyiaran
pasti mampu untuk menciptakan media ramah anak.
Dadang
dari KPID Jawa Barat melengkapi pernyataan yang diungkapkan oleh Hardly
Stefano. Dengan adanya regulasi kualifikasi jam penayangan program, para pelaku
media harus bisa mengkalisifikasikan program yang mereka punya dengan baik agar
media menjadi sehat dan mampu untuk ramah anak. Semua elemen juga harus
berperan dan saling bekerja sama untuk mewujudkan hal tersebut.
Terakhir,
Penulis dan Pemimpin Redaksi Majalah Anak Indonesia BEST, Nilam Zubir menyatakan bahwa solusi yang dapat diberikan
adalah dengan adanya majalah atau bacaan untuk anak tentang pengetahuan dan
budi pekerti serta mengajak anak agar lebih dekat dengan alam sekitar.
Media: Taman Bermain Anak Masa Kini
Oleh Wicaksono Tri Kurniawan
Mahasiswa Program Studi Jurnalistik
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Dihimpun dari:
Seminar Parade Jurnalistik Unpad 2016.
Seluruh gagasan merupakan pendapat yang disampaikan narasumber
tanpa mengubah/menambah intinya.
Terima kasih telah membaca. Kalau kamu suka, jangan lupa share ya!
thanks gan, kunjungi juga situs saya situs tutorial blogger, informasi dan teknologi, serta info kesehatan di blog saya juga bahas anime dan game
BalasHapus